Kominfo Minta Generasi Milenial Berhati-hati Dalam Menggunakan Media Sosial

INDONESIASATU.CO.ID:

NGANJUK - Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Namun, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan akan membahayakan generasi muda.

Saat ini Pemerintah berupaya mencegah penyebaran hoax dengan menyusun Undang-undang yang di dalamnya mengatur sanksi bagi pengguna internet yang menyebarkan konten negatif. Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika ikut mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital, salah satunya melalui Mudamudigital.

Mudamudigital merupakan wadah bagi para generasi muda untuk berbagi ilmu dengan para pakar literasi digital Indonesia. Para peserta juga dapat ‘curhat’ kepada para pakar tentang apa saja yang mereka hadapi di dunia digital pada ‘zaman now’.

Tujuannya ialah membentuk generasi muda Indonesia agar mempunyai kecerdesaan literasi digital yang tinggi, sehingga tidak gampang dipengaruhi oleh berita-berita hoax yang dapat melunturkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Selamatta Sembiring, Direktur Pengolahan & Penyediaan Informasi.  Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo mengatakan,internet telah membuat informasi berkembang lebih jauh. Dalam hitungan jam, satu topik bisa berkembang lebih luas.

“Misalnya saja berita yang berkembang soal registrasi SIM Card telah berkembang sangat jauh. Dalam hitungan jam, berapa hari, berita berkembang luas, bahkan ada yang menjadi hoax. Masuk ke ranah-ranah lain, seperti untuk penyadapan dan lain-lain,”kata Herry dalam acara “Forum Dialog Publik Tanyangan Generasi Milenial Dalam Menangkal Radikalisme” di Kertosono Nganjuk, Sabtu (23/6/2018).

Ia menambahkan, hoax tersebut sangat viral, padahal tidak ada hubungannya. Baru hitungan hari saja sudah berubah. Padahal, hal tersebut tidak benar. Selain itu, hoax juga membuat seseorang bisa berbuat radikal dan membenci kelompok lain. Sehingga timbul perpecahan dan perselisihan. Terutama isu yang berkaitan dengan suku, agama, ras dan adat. Biasanya laris di buat hoax oleh sebagian orang.

“Tujuan hoax yaitu menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan. Padahal sumbernya tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi. Akibat hoax orang bisa saling bunuh, berperang dan bertindak diluar kontrol. Ini bahaya, bisa memecah belah bangsa,” tambah Sembiring.

Oleh karenanya, ia mengharapkan generasi milenial tidak mudah percaya dengan informasi yang berseliweran. Cek kebenarannya. “Ciri-ciri kabar hoax itu biasanya minta supaya dishare atau diviralkan, menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya nampak ilmiah dan dipercaya. Selanjutnya, artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal. Media yang tidak jelas alamat dan susunan redaksi dan manipulasi foto,” tandasnya.

Sementara itu, wakil ketua DPRD Kabupaten Nganjuk H. Ulum Basthomi, mengingatkan agar generasi muda tidak sembarangan membagikan sesuatu di internet, misalnya informasi menyinggung orang lain.

“Menyebarkan atau memberikan informasi buruk di internet bisa terancaman pidana pasal 310 dan 311 KUHP dan Undang-Undang ITE. Cek dulu informasi yang ingin disebarkan, apa dapat merugikan orang lain, jangan sampai bersinggungan dengan hukum,” katanya.

Untuk pengguna internet yang menjadi korban penipuan, Ulum menyarankan agar mereka membuat laporan kepada Kepolisan. Berbekal bukti laporan dari Kepolisian, korban bisa meminta agar bank membekukan sementara rekening pelaku penipuan.

“Rekening pelaku bisa ditahan, penundaan transaksi sebentar. Sesuai UU pencucian uang, bank dapat melakukan penundaan transaksi bila ada transaksi yang mencurigakan. Ini kan teman-teman transaksi melalui transfer, jadi bisa dilihat,” pungkasnya.(solid/kla)

Index Berita