Kena OTT, Bupati Purbalingga Ini Malah Berterima Kasih dan Tunjukkan Salam Metal

lurahkusno, 29 Nov 2018,
Share w.App T.Me

SEMARANG - Bupati Purbalingga nonaktif Tasdi kembali menunjukkan hal menarik seusai sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (28/11/2018). Tasdi kembali memamerkan 'salam metal' tiga jari.

Fenomena salam metal dari Tasdi sebelumnya diperlihatkan ketika ia hendak ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Juni 2018 lalu.

Tasdi menegaskan, bahwa salam metal adalah bukti dirinya kader PDI-P.

"Saya itu ketua DPC PDI-P tiga kali. Masuk partai sejak 1987, sejak saya kelas 2 SMA," kata Tasdi, sembari mengepalkan salam metal di ruang sidang.

Tasdi yang terseret kasus suap dan gratifikasi ini berjanji akan tetap berada di partainya bernaung, meski saat ini tersangkut kasus korupsi.

"Saya tetap PDI-P. Makanya salam saya metal di KPK dulu, bukan karena menantang siapa pun. Meski saya kena masalah, saya tetap di PDI-P, saya bela partai, bela daerah, saya salah, saya bertanggung jawab," kata dia.

Dia mengatakan, salam metal yang ditunjukkan bukan untuk menentang partai, melainkan bentuk keloyalan terhadap partai.

"Saya tetap PDI-P dan Bu Megawati. Saya sudah 20 tahunan," ujar dia.

Tasdi didakwa menerima suap dan gratifikasi saat menjabat orang nomor satu di Purbalingga.

Dalam kasus suap, ia didakwa menerima Rp 115 juta dari Rp 500 juta yang dijanjikan dalam proyek pembangunan Islamic Center tahap 2, dengan nilai proyek Rp 22 miliar.

Sementara dalam kasus gratifikasi, dia didakwa menerima uang Rp 1,465 miliar dan 20.000 dollar AS.

Tasdi dijerat dengan dakwaan yang disusun secara akumulatif, yaitu Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah dan diganti menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Tasdi Ucapkan Terima Kasih

Bupati Purbalingga nonaktif Tasdi mengucapkan terima kasih atas operasi tangkap tangan yang dilakukan kepadanya.

OTT kepada Tasdi dilakukan 2,5 tahun setelah ia menjabat sebagai bupati.

"Kita terima kasih pada KPK. Berkat kejadian ini, kita diremkan. Jadi saya berterima kasih," kata Tasdi seusai sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (28/11/2018).

Lebih lanjut, Tasdi berdalih bahwa upaya KPK menyeretnya saat ini bisa membuatnya belajar untuk tidak melakukan kesalahan serupa di masa mendatang.

Ia mengakui bahwa perbuatannya memerintahkan dan menerima sejumlah uang suap dan gratifikasi sebagai kesalahan.

"Saya salah dan saya bertanggungjawab untuk itu. Jadi sebelum disidang di akhirat, saya disidang di dunia dulu, ya mengurangi dosa," tambahnya.

Dalam kasus ini, Tasdi mengklaim bahwa dia tidak menikmati uang suap maupun gratifikasi. Semua upaya yang dilakukan demi mewujudkan janji politiknya untuk partainya bernaung.

Tasdi mengatakan, praktik suap dan gratifikasi yang dia terima tidak untuk keperluan pribadinya. Semua dilakukan untuk kepentingan daerah dan kepentingan partai.

Menurutnya, hal itu adalah risiko ketika kepala daerah merangkap sebagai ketua partai di tingkat daerah.

"Sampai hari ini, saya tidak menikmati uang dari manapun, termasuk (uang iuran) dari Pak Utut, Pak Ganjar dan lainnya. Kita terima kasih KPK karena direm," tambahnya.

“Saya berterimakasih pada KPK, saya apresiasi. Kalau tidak ada KPK, praktek ini akan jalan terus," pungkasnya.(tim) 

Sumber: Kompas.com

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu