Dampak Proyek Tol CRBC, Warga Waung Keluhkan Jalan Rusak 

INDONESIASATU.CO.ID:

NGANJUK - Pembangunan Jalan Tol Madiun-Kertosono sebagai proyek Nasional sedang dalam pengerjaan saat ini memiliki berbagai dampak. Dampak kelihatan adanya jalan rusak disejumlah tempat akibat dilalui dengan kendaraan pengangkut bahan material proyek Tol. 

Seperti pengakuan Sukardi (54) tahun,  warga Dusun Santren, Desa Waung, Kecamatan Baron yang mengeluh jalan didepan rumah dan sepanjang jalan Jurusan Baron-Lengkong rusak berat.  Jalan berlubang di sejumlah titik, jika hujan datang terdapat banyak genangan air dan licin. 

"Akibat dilalui kendaraan proyek Tol Jalan berlubang, ada genangan air dan licin. Saya sering nolong orang jatuh, " ungkapnya kesal. 

Memang pernah ada perbaikan dari CRBC sebagai pengerja proyek Tol. Namun, mungkin karena kualitas perbaikan dengan penambalan buruk, jalan yang sudah diperbaiki rusak lagi. 

Disaat terpisah, Raymond dari wakil CRBC menyatakan sudah ada langkah perbaikan jalan. Sifatnya reguler, 2 kilometer sisi kanan dan kiri lokasi pengerjaan Tol, sepanjang jalan lintas Baron - Lengkong. 

"Kalau ada kerusakan, dirinya meminta agar warga bersabar dan berkorban dulu karena proyek nasional, saya hanya orang kecil yang melaksanakan tugas dari pimpinan, " urai Raymond kepada wartajatim.com.

Sebelumnya, Komunitas media sosial Aliansi Wong Gawat (AWG) Nganjuk protes terhadap pihak pengerja proyek Tol Madiun-Kertosono. Pasalnya sejumlah jalan yang dilalui dump truck pengerja proyek rusak parah dan belum ada upaya perbaikan dari berbagai pihak yang punya kewenangan. 

Berdasarkan informasi yang didapat dilapangan, Sejumlah orang mengaku dari AWG Nganjuk menghentikan tiga unit kendaraan Dump Truck warna Orange, Mitsubishi Fuso 220 PS membawa muatan tanah timbun ditengah jalan Lintas dua Kecamatan Baron - Lengkong, tepatnya di sekitar Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk.

Ketua komunitas AWG Darmanto menyatakan, tindakan penghentian armada pengangkut material proyek Tol bukan karena alasan. Selama ini armada lalu lalang setiap hari dengan muatan ribuan ton berimbas pada rusaknya sebagian besar infrastruktur jalan. Bahkan protes warga dengan menanam pisang ditengah jalan yang rusam tidak di gubris. 

"Isinya kantor CRBC itu cuma saldo, keselamatan orang di jalan raya dan karyawannya tidak digatek, saldo sehari dapat berapa kubik uangnya segini, orang mati ya sudah, " ungkap Panjol sapaan akrab ketua Komunitas AWG kepada Minggu (11/3/2018) pagi. 

Beberapa kali pihak kantor dihubungi tapi belum ada jawaban pasti. Jika belum ada kepastian untuk perbaikan, pihak komunitas AWG beserta sejumlah pengacara akan melakukab gugatan Class Action. 

Ditempat terpisah Udin (25) tahun warga Desa Waung, Kecamatan Baron, mengeluhkan kondisi jalan yang rusak parah. Tidak tampak lagi aspal, yang ada hanya lubang genangan air. Sejumlah bangunan rumah warga juga mengalami keretakan dibeberapa sisi akibat getaran armada pengangkut material proyek Tol. 

"Iya mas, aspalnya sudah hilang, banyak lubang, dan bahkan tetangga saya rumahnya juga retak karena kendaraan proyek," ungkapnya singkat, Senin (12/3/2018).

Udin menambahkan tidak hanya infrastruktur yang rusak, tapi beberapa anak kecil sering terkena sakit batuk yang diduga disebabkan debu polusi kendaraan proyek Tol yang lalu lalang. Pungkasnya. (di/kusno)

  • Whatsapp

Index Berita